Senin, 06 Agustus 2012

Menghitung Hari Taksiran Persalinan (HTP) dan Umur Kehamilan

Menghitung Hari Taksiran Persalinan (HTP) dan Umur Kehamilan

Metoda I : Metoda Kalender (untuk HTP)

Hari Pertama haid teakhir (HPHT) untuk tanggal ditambahkan 7 hari, untuk bulan dikurangi 3 bulan dan untuk tahun ditambahkan 1 tahun. Misalnya, HPHT tanggal 12 April 1980, maka untuk hari 12 + 7 = 19 jadi tanggal 19, untuk bulan April : 4 - 3 =1 jadi bulan Januari, untuk tahun ditambah 1 tahun 1980 + 1 =1981 jadi tahun 1981. Jadi HTPnya adalah 19 Januari 1981.


Metoda II : Metoda Bulan (untuk HTP)

Bila ibu hamil mempunyai siklus haid 28 hari (4 minggu), bayi akan lahir tepat 40 minggu atau setelah 10 bulan purnama, bila HPHTnya pada waktu bulan purnama.


Metoda III : Metoda "Roda Kehamilan" (untuk HTP dan Umur Kehamilan)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan "Roda Kehamilan" atau gestogram (bila ada).


Metoda IV (untuk Umur Kehamilan)


Hitung berapa bulan sudah berlalu sejak HPHT sampai saat pertama kali memeriksakan kehamilan. Misalnya, HPHT pada tanggal 6 April dan ibu memeriksakan diri pada tanggal 12 Juni, maka kehamilannya pada waktu itu telah berumur 2 bulan lebih sedikit.

Umur Kehamilan diperhitungkan dan dibandingkan dengan ukuran uterus, untuk melihat apakah janin tumbuh semakin besar pada setiap kunjungan ulangan.

Refleksiologi

Refleksiologi


  1. Reflek kornea

    Dengan cara menyentuhkan kapas pada limbus, hasil positif bila mengedip (N IV & VII )


  2. Reflek faring

    Faring digores dengan spatel, reaksi positif bila ada reaksi muntahan ( N IX & X )


  3. Reflek Abdominal

    Menggoreskan dinidng perut dari lateral ke umbilicus, hasil negative pada orang
    tua, wanita multi para, obesitas, hasil positif bila terdapat reaksi otot.


  4. Reflek Kremaster

    Menggoreskan paha bagian dalam bawah, positif bila skrotum sisi yang sama
    naik / kontriksi ( L 1-2 )


  5. Reflek Anal

    Menggores kulit anal, positif bila ada kontraksi spincter ani ( S 3-4-5 )


  6. Reflek Bulbo Cavernosus

    Tekan gland penis tiba-tiba jari yang lain masukkan kedalam anus, positif bila
    kontraksi spincter ani (S3-4 / saraf spinal )


  7. Reflek Bisep ( C 5-6 )


  8. Reflek Trisep ( C 6,7,8 )


  9. Reflek Brachioradialis ( C 5-6 )


  10. Reflek Patela ( L 2-3-4 )


  11. Reflek Tendon Achiles ( L5-S2)


  12. Reflek Moro

    Reflek memeluk pada bayi saat dikejutkan dengan tangan


  13. Reflek Babinski

    Goreskan ujung reflak hammer pada lateral telapak kaki mengarah ke jari, hasil
    positif pada bayi normal sedangkan pada orang dewasa abnormal ( jari kaki
    meregang / aduksi ektensi )


  14. Sucking reflek

    Reflek menghisap pada bayi


  15. Grasping reflek

    Reflek memegang pada bayi


  16. Rooting reflek

    Bayi menoleh saat tangan ditempelkan ke sisi pipi

Reflek Patologi

Reflek Patologi


  1. Reflek Hoffman – Tromer

    Jari tengah klien diekstensikan, ujungnya digores, positif bila ada gerakan fleksi pada ari lainnya


  2. Reflek Jaw

    Kerusakan kortikospinalis bilateral, eferen dan aferennya nervous trigeminus, dengan
    mengertuk dagu klien pada posisi mulut terbuka, hasil positif bila mulut terkatup


  3. Reflek regresi

    Kerusakan traktus pirimidalis bilateral / otak bilateral


  4. Reflek Glabella

    Mengetuk dahi diantara kedua mata, hasilnya positif bila membuat kedua mata klien
    tertutup


  5. Reflek Snout

    Mengutuk pertengahan bibir atas, positif bila mulutnya tercucur saliva


  6. Reflek sucking

    Menaruh jari pada bibir klien, positif bila klien menghisap jari tersebut


  7. Reflek Grasp

    Taruh jari pada tangan klien, positif bila klien memegangnya


  8. Reflek Palmomental

    Gores telapak tangan didaerah distal, positif bila otot dagu kontraksi


  9. Reflek rosolimo

    Ketuk telapak kaki depan, positif bila jari kaki ventrofleksi


  10. Reflek Mendel Bechterew

    Mengetuk daerah dorsal kaki2 sebelah depan,positif bila jari kaki ventrofleksi

Cara Menentukan Umur Kehamilan Menurut Ballard (1997)·Label: Buku Saku Perawat, Cara Menentukan Umur Kehamilan Menurut Ballard (1997)KULIT0 = merah seperti agar transparan1 = merah muda licin/halus tampak vena2 = permukaan mengelupas dengan/tanpa ruam, sedikit vena3 = daerah pucat, retak2, vena jarang4 = seperti kertas putih, retak lebih dalam tidak ada vena5 = seperti kulit retak mengkerutLANUGO0 = tidak ada1 = banyak2 = menipis3 = menghilang4 = umumnya tidak ada5 =……………..LIPATAN PLANTAR0 = hampir tidak tampak1 = tanda merah sangat sedikit2 = hanya lipatan anterior yang menghilang3 = lipatan 2/3 anterior4 = lipatan seluruh tampakPAYUDARA0 = hampir tidak tampak1 = areola mendatar tidak ada tonjolan2 = areola seperti titik tonjolan 1-2 mm3 = areola lebih jelas dengan 3-4 mm4 = areola penuh tonjolan 5-10 mmDAUN TELINGA0 = datar tetap terlihat1 = sedikit melengkung, lunak lambat kembali2 = bentuknya lebih baik, lunak mudah membalik3 = bentuk sempurna, membaik seketika4 = tulang rawan tebal, tulang telinga kakuKELAMIN LAKI - LAKI0 = skrotum tidak ada rugae1 = testis belum turun2 = testis turun, sedikit rugae3 = testis dibawah, rugaenya bagus4 = testis tergantung, rugaenya dalamKELAMIN WANITA0 = klitoris dan labia minor menonjol1 = labia mayor dan minor sama2 menonjol2 = labia mayor besar, minor kecil3 = klitoris dan labia minor di tutupi labia mayor

Cara Menentukan Umur Kehamilan Menurut Ballard (1997)

KULIT

0 = merah seperti agar transparan

1 = merah muda licin/halus tampak vena

2 = permukaan mengelupas dengan/tanpa ruam, sedikit vena

3 = daerah pucat, retak2, vena jarang

4 = seperti kertas putih, retak lebih dalam tidak ada vena

5 = seperti kulit retak mengkerut


LANUGO

0 = tidak ada

1 = banyak

2 = menipis

3 = menghilang

4 = umumnya tidak ada

5 =……………..


LIPATAN PLANTAR

0 = hampir tidak tampak

1 = tanda merah sangat sedikit

2 = hanya lipatan anterior yang menghilang

3 = lipatan 2/3 anterior

4 = lipatan seluruh tampak


PAYUDARA

0 = hampir tidak tampak

1 = areola mendatar tidak ada tonjolan

2 = areola seperti titik tonjolan 1-2 mm

3 = areola lebih jelas dengan 3-4 mm

4 = areola penuh tonjolan 5-10 mm


DAUN TELINGA

0 = datar tetap terlihat

1 = sedikit melengkung, lunak lambat kembali

2 = bentuknya lebih baik, lunak mudah membalik

3 = bentuk sempurna, membaik seketika

4 = tulang rawan tebal, tulang telinga kaku


KELAMIN LAKI - LAKI

0 = skrotum tidak ada rugae

1 = testis belum turun

2 = testis turun, sedikit rugae

3 = testis dibawah, rugaenya bagus

4 = testis tergantung, rugaenya dalam


KELAMIN WANITA

0 = klitoris dan labia minor menonjol

1 = labia mayor dan minor sama2 menonjol

2 = labia mayor besar, minor kecil

3 = klitoris dan labia minor di tutupi labia mayor

Rumus Perhitungan Dosis

Rumus Perhitungan Dosis

RUMUS PERHITUNGAN DOPAMIN

Dopamin ;1 ampul = 10 cc, 1 ampul = 200 mg , 1 mg = 1000 mikrogram

Rumus factor pengencer = 200.000 = 4000

50cc

Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) = hasil

4000

Atau rumus langsung : Dosis x BB 60 x 50 = hasil

200.000


RUMUS PERHITUNGAN DOBUTAMIN

Dobutamin ; 1 ampul = 5 cc , 1 ampul = 250 mg , 1 mg = 1000 mikrogram

250 mg = 250.000 mikrogram

rumus factor pengencer = 250.000 = 5000

50cc

Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) = hasil

5000

Atau rumus langsung : Dosis x BB x 60 x 50 = hasil

250.000

Rumus diatas digunakan untuk pemberian dopamine dan dobutamin dengan menggunakan syringe pump.


Rumus pemberian Dopamin dan Dobutamin dalam kolf / drip

Rumus = 200.000 = 400

500

= Dosis x BB x jam ( menit )

400

= hasil sesuai makro drip / mikrodrip


RUMUS PERHITUNGAN NITROCYNE

1 ampul = 10 cc , 1 cc = 1 mg, 1 ampul = 10 mg

Dosis yang digunakan dalam cc ( microgram ) jadi 1 ampul = 10.000 mikrogram

Rumus : Dosis x 60 x pengencer = hasil

10.000


RUMUS PERHITUNGAN ISOKET

1 ampul = 10 cc , 1 ampul = 10 mg , 1mg = 1cc

Isoket atau Cedocard diberikan sesuai dosis yang diberikan oleh dokter.


RUMUS PERHITUNGAN DARAH UNTUK TRANSFUSI

Rumus : Hb normal – Hb pasien = hasil

> hasil x BB x jenis darah

Keterangan :

Hb normal = Hb yang diharapkan atau Hb normal

Hb pasien = Hb pasien saat ini

Hasil = hasil pengurangan Hb normal dan Hb pasien

Jenis darah = darah yang dibutuhkan

= PRC dikalikan 3

= WB dikalikan 6


RUMUS PERHITUNGAN KOREKSI HIPOKALEMI PADA ANAK

Koreksi cepat

Yang dibutuhkan = ( jml K x BB x 0,4 ) + ( 2/6 x BB )

Diberikan dalam waktu 4 jam

Maintenance : 5 x BB x 2

6

Diberikan dalam 24 jam

Keterangan :
Jml K = nilai yang diharapkan ( 3,5 ) – nilai hasil kalian (x)

Perbedaan Primigravida dan Multigravida

Perbedaan Primigravida dan Multigravida

Primigravida :
  • buah dada tegang
  • puting susu runcing
  • perut tegang dan menonjol kedepan
  • striae lividae
  • perineum utuh
  • vulva tertutup
  • hymen perforatus
  • vagina sempit dan teraba rugae
  • portio runcing, ost. ext. tertutup


Multigravida :
  • lembek, menggantung
  • puting susu tumpul
  • perut lembek dan tergantug
  • striae lividae dan striae albicans
  • perineum berparut
  • vulva mengangah
  • carunculae myrtiformis
  • vagina longgar, selaput lendir licin
  • portio timpul dan terbagi dalam bibir depan dan bibir belakang.

Pemeriksaan Umum Ibu Hamil

Pemeriksaan Umum Ibu Hamil

Apa sajakah Pemeriksaan Umum Kehamilan ?
  1. Bagaimana keadaan umum penderita, keadaan gizi, kelainan bantuk badan, kesadaran.
  2. Adakah anemia, cyanosis, icterus, atau dyspnoe.
  3. Keadaan jantung dan paru-paru.
  4. Adakah oedem :
    Oedema dalah kehamilan dapat disebabkan oleh toxemia gravidarum atau oleh tekanan rahim yang membesar pada vena-vena dalam panggul yang mengalirkan darah dari kaki, tetapi juga oleh hypovitaminose B1, hypoproteinaemia dan penyakit jantung.
  5. Refleks :
    terutama refleks lutut. Refleks lutut negatif pada hypovitaminose B1 dan penyakit urat syaraf.
  6. Tensi :
    Tensi pada orang hamil tidak boleh mencapai 140 systolis atau 90 diastolis.
    Juga perubahan 30 systolis dan 15 diastolis di atas tensi sebelum hamil menandakan toxemia gravidarum.
  7. Berat badan :
    walaupun prognosa kehamilan dan persalinan bagi orang gemuk kurang baik di bandingkan dengan orang yang normal beratnya, dalam menimbang seseorang bukan beratnya saja yang penting, tapi lebih penting lagi perubahan berat setiap kali ibu memeriksakan diri.
    Berat badan dalam triwulan ke III tidak boleh tambah lebih dari 1 kg seminggu atau 3 kg sebulan.
    Penambahan yang lebih dari batas-batas tersebut di atas disebabkan oleh penimbunan (retensi) air dan di sebut praoedema.
  8. Pemeriksaan Laboratorium
    • Air kencing :
      - terutama diperiksa atas glukose, zat putih telur dan sedimen.
      Adanya glukose dalam urine orang hamil harus dianggap sebagai gejala penyakit diabetes kecuali kalau kita dapat membuktikan bahwa hal-hal lain yang menyebabkannya.
      -Dalam akhir kehamilan dan dalam nifas reaksi reduksi dapat menjadi positif adanya laktose dalam air kencing. Zat putih telur positsf dalam air kencing pada nefritis, toxemia gravidarum dan radang dari saluran kencing.
    • Darah :
      - dari darah perlu ditentukan Hb, sekali 3 bulan karena pada orang hamil sering timbul anemia karena defisiensi Fe.
      - Selanjutnya perlu di periksa reaksi seroogis (WR) dan golongan darah. Juga pemeriksaan kadar gula darah. Reaksi Wasserman positif dan lues, tetapi juga pada fraimboesia.
      Golongan darah ditentukan supaya kita cepat dapat mencairkan darah yang cocok jika penderita memerlukannya. Kalau ibu golongan O maka mungkin timbul ABO antagonisme.
    • Faeces diperiksa atas telur-telur cacing.

Hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meninggil saat hamil. Keadaan ini biasanya mulai pada trimester ketiga, atau tiga bulan terakhir kehamilan. Kadang-kadang timbul lebih awal, tetapi hal ini jarang terjadi.

Tidak diketahui mengapa tekanan darah bisa meninggi di saat hamil. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama, dan lebih jarang pada hamil anak selanjutnya.

Dikatakan tekanan darah tinggi dalam kehamilan jika tekanan darah sebelum hamil (saat periksa hamil) lebih tinggi dibandingkan tekanan darah di saat hamil.

Bagaimana suatu peristiwa kehamilan dapat memicu atau memperberat hipertensi merupakan pertanyaan yang masih belum memperoleh jawaban yang memuaskan.

Angka kejadian Hipertensi dalam Kehamilan kira-kira 3.7 % seluruh kehamilan.

Walaupun penyebab pasti mengapa tekanan darah bisa meninggi di saat hamil, tapi perlu dilakukan pencegahan terhadap factor-faktor yang jelas beresiko mencetuskan terjadinya hipertensi. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama, dan lebih jarang pada hamil anak selanjutnya. Beberapa faktor yang ditengarai berhubungan dengan kejadian hipertensi antara lain pola makan yang tidak sehat, karakteristik individual seperti usia, faktor genetik, dan kondisi psikologis emosional. Pada saat hamil muda ibu biasanya suka mengkonsumsi makanan yang berasa kecut dan asin dimana makanan tersebut sering mengandung kadar natrium (garam) yang tinggi.

Banyak saran yang diberikan untuk menghindarkan hipertensi misalnya dengan menghindari konsumsi daging berlebihan, protein, purine, lemak, hidangan siap saji (snack), dan produk-produk makanan instan lain.

John dkk (2002) : diet buah dan sayur banyak mengandung aktivitas non-oksidan yang dapat menurunkan tekanan darah.

Zhang dkk (2002) : kejadian PE pada pasien dengan asupan vitamin C harian kurang dari 85 mg dapat meningkat menjadi 2 kali lipat.

Obesitas adalah faktor resiko yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya PE. Obesitas pada ibu tidak hamil dapat menyebabkan aktivasi endotel dan respon inflamasi sistemik yang berhubungan dengan arterosklerosis.

Kadar C-reactive protein (“inlamatory marker”) meningkat pada obesitas yang seringkali berkaitan dengan PE

Sumber :

Dekker GA, Sibai BM : Etiology and pathogenesis of preeclampsia: Current concepts. Am J Obstet Gynecol 179:1359, 1998

John JH, Ziebland S, Yudkin P, et al : Effects of fruit and vegetables consumption on plasma antioxidant concentration and blood pressure: A randomized controlled trial. Lancet 359:1969.2002

Zhang C, Williams MA, King IB, et al : Vitamin C and the risk of preeclampsia-result from dietary questionnaire and plasma assay. Epidemiology 13:382,2002


SELENGKAPNYA di: Hipertensi dalam kehamilan » askep askeb | asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc

Mengatasi Sakit Jantung dan Serangan Jantung

Mengatasi Sakit Jantung dan Serangan Jantung

Jantung merupakan organ yang sangat penting bagi manusia, karena jantung diperlukan untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga tubuh mendapatkan oksigen dan sari makanan yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Karena itu, jantung perlu dijaga agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu yang perlu dihindari adalah penyakit jantung koroner yang merupakan salah satu penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan serangan jantung. Untuk melakukannya, kita perlu mengetahui bagaimana caranya agar jantung kita tetap sehat, apa yang harus dihindari dan apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung.
Kumpulan.info - Setiap tahun, jutaan orang di seluas dunia mengalami serangan jantung. Tidak semua serangan jantung mengakibatkan kematian. Namun, umumnya setiap pasien yang pernah mengalami serangan jantung menderita beberapa dampak lanjutannya. Sedangkan sisanya tidak tertolong lagi.

Jantung

Jantung adalah sebuah otot yang memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam suatu serangan jantung (myocardial infarction), bagian dari otot jantung mati sewaktu tidak mendapatkan darah. Untuk tetap sehat, jantung membutuhkan oksigen dan zat-zat gizi lain yang dibawa oleh darah. Ini didapatkan melalui arteria (pembuluh darah) koroner, yang membungkus bagian luar jantung.

Penyakit Jantung

Serangan JantungPenyakit-penyakit dapat mempengaruhi bagian mana pun dari jantung. Tetapi, penyakit yang paling umum adalah penyakit kronis pada arteria koroner yang disebut aterosklerosis. Karena itu, sakit jantung yang umum dikenal dan paling banyak diderita adalah penyakit jantung koroner atau penyakit arteria koroner. Penyakit ini paling sering menyebabkan serangan jantung pada seseorang yang bisa menyebabkan kematian. Penyebabnya adalah penyempitan pada pembuluh darah koroner, dimana pembuluh ini berfungsi untuk menyediakan darah ke otot jantung. Penyempitan disebabkan oleh tumpukan kolesterol atau protein lain yang berasal dari makanan yang masuk dalam tubuh. Penumpukan ini juga menyebabkan pembuluh darah koroner menjadi kaku. Kekakuan ini disebut sebagai aterosklerosis.
Aterosklerosis terjadi jika terjadi penumpukan plak atau timbunan lemak pada dinding-dinding arteri. Selang beberapa waktu, plak dapat menumpuk, mengeras dan mempersempit arteri, dan menghambat aliran darah ke jantung. Penyakit arteria koroner atau coronary artery disease (CAD) inilah yang pada dasarnya menuntun kepada sebagian besar serangan jantung.
Penyumbatan dalam satu arteri koroner atau lebih dapat menimbulkan serangan jantung secara tiba-tiba. Penyebabnya karena jantung meminta oksigen melebihi yang tersedia sehingga memicu serangan jantung. Mengapa? Apabila otot jantung tidak menerima oksigen untuk waktu yang cukup lama, jaringan di sekitarnya dapat rusak. Tidak seperti jaringan yang lain, otot jantung tidak mengalami regenerasi. Semakin lama serangannya, semakin banyak kerusakan pada jantung dan semakin besar kemungkinan meninggal.
Bahkan dalam arteri yang tidak terlalu sempit karena timbungan plak dan lemak, timbunan plak dapat pecah dan membentuk kerak darah atau trombus. Selain itu, arteri yang berpenyakit juga cenderung mengalami kontraksi otot secara mendadak. Sehingga, sekeping kerak darah dapat terbentuk di tempat kontraksi, melepaskan zat kimia yang kemudian mengakibatkan dinding arteri menyempit, memicu sebuah serangan jantung.
Jika sistem kerja dari jantung rusak, irama normal jantung dapat menjadi kacau dan jantung mulai bergetar dengan tidak menentu atau mengalami fibrilasi. Irama tidak normal ini disebut sebagai aritmia yaitu penyimpangan dari irama jantung normal. Hal ini akan menyebabkan jantung kehilangan kesanggupannya untuk memompa darah dengan efektif ke otak. Dalam waktu sepuluh menit, otak mati dan si pasien pun tidak tertolong lagi.
Selain penyakit jantung koroner yang disebabkan karena penumpukan lemak di dinding arteri, ada juga penyakit jantung lainnya yang disebabkan kelainan semenjak lahir. Misalnya jantung yang tidak sempurna, kelainan katup jantung, melemahnya otot jantung. Penyebab lain adalah bakteri yang menyebabkan infeksi pada jantung.

Gejala Sakit Jantung

Jika gejala serangan jantung terjadi pada Anda:

Kenalilah gejala-gejala tersebut apakah terjadi nyeri dada, sesak napas, ataupun jantung berdebar.
Hentikan segera semua pekerjaan apa pun yang sedang Anda lakukan lalu duduk atau berbaringlah sembari menarik napas dalam-dalam.
Jika Anda sendirian sementara gejala tersebut berlangsung lebih dari beberapa menit segera hubungi nomor telepon darurat setempat dan katakan Anda terkena serangan jantung. Atau hubungi orang di sekitar Anda dengan memberikan informasi yang sama.
Jika ada yang bisa mengantar Anda ke rumah sakit lebih cepat daripada kedatangan paramedis, segeralah minta bantuannya pergi mengantar Anda ke ruang gawat darurat di rumah sakit. Lebih cepat ditangani akan lebih baik.
Namun jika Anda menunggu tim paramedis datang, maka sementara menunggu, Anda dapat melonggarkan pakaian yang ketat, termasuk ikat pinggang atau dasi. Buat diri dalam posisi yang terasa nyaman.
Tetaplah tenang, tidak soal Anda korbannya atau penolongnya. Kepanikan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya aritmia atau penyimpangan irama jantung yang mengancam kehidupan.
Gejala-gejala yang dirasakan jika mengalami penyakit jantung koroner antara lain rasa sakit atau nyeri di dada di mana kebanyakan orang menyangka itu hanya sebagai gangguan pencernaan. Lalu gejala lain yaitu merasa tertekan di tengah dada selama 30 detik sampai 5 menit. Hal lainnya adalah keringat dingin, berdebar-debar, pusing, dan merasa mau pingsan. Gejala ini tidak selalu dirasakan penderitanya. Tanda peringatan lain adalah napas tersengal-sengal pada saat berolahraga.
Selama beberapa bulan sebelum serangan jantung biasanya penderita penyakit jantung sering merasa sangat lelah. Jangan menganggap gejala ini disebabkan oleh kurang tidur dan stres akibat pekerjaan.
Rasa nyeri atau rasa ditekan di dada, yang disebut angina, memberikan peringatan kepada setengah dari mereka yang menderita serangan jantung. Beberapa orang mengalami napas tersengal-sengal atau kelelahan dan perasaan lunglai sebagai gejalanya, mengindikasikan bahwa jantung tidak mendapatkan cukup oksigen karena penyumbatan koroner.
Biasanya beberapa hari menjelang mengalami serangan jantung hebat, seseorang akan mengalami kontraksi otot secara tiba-tiba di dada yang merupakan serangan kecil atau serangan jantung ringan. Serangan jantung ringan umum terjadi sebelum serangan besar beberapa hari kemudian.

Tips Mencegah Penyakit Jantung

Agar terhindar dari penyakit jantung koroner, Anda dapat melakukan hal-hal berikut:
  • Pola makan sehat

    Hindari makanan yang banyak mengandung lemak atau yang mengandung kolesterol tinggi. Seafood memiliki kandungan kolesterol tinggi yang dapat membahayakan jantung. Kurangi menyantap makanan yang digoreng yang banyak mengandung lemak, sebaliknya makanan dapat diolah dengan cara direbus, dikukus atau dipanggang.

    Sebisa mungkin, produk makanan yang kita makan rendah lemak atau tanpa lemak. Pilih susu, keju, mentega atau makanan lain yang rendah lemak. Menggoreng dengan menggunakan minyak zaitun memiliki kandungan lemak yang sedikit sehingga bisa menjadi pilihan bila harus mengolah makanan dengan cara digoreng.

    Selain menghindari makanan berlemak, hindari juga makanan dengan kandungan gula tinggi seperti soft drink. Jangan pula tertalu banyak mengkonsumsi karbohirat, karena dalam tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi lemak. Sebaliknya, konsumsi oat atau gandum yang dapat membantu menjaga jantung tetap sehat.

    Jaga pola makan tidak berlebihan agar terhindar dari kegemukan, karena seseorang yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 80 cm, berisiko lebih besar terkena penyakit ini.
  • Berhenti merokok

    Mengisap rokok sangat tidak baik untuk kesehatan jantung, maka segera hentikan kebiasaan ini agar jantung tetap sehat.
  • Hindari Stres

    Stres memang sangat sulit dihindari jika hidup di kota besar seperti Jakarta yang dikenal karena kemacetan dan kesibukannya. Saat seseorang mengalami stres, tubuhnya akan mengeluarkan hormon cortisol yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Hormon norepinephrine akan diproduksi tubuh saat menderita stres, yang akan mengakibatkan naiknya tekanan darah. Maka, sangat baik bila Anda menghindari stres baik di kantor atau di rumah.
  • Hipertensi

    Problem hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan penyakit jantung. Hipertensi dapat melukai dinding arteri dan memungkinkan kolesterol LDL memasuki saluran arteri dan meningkatkan penimbunan plak.
  • Obesitas

    Kelebihan berat atau obesitas meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan lemak. Menghindari atau mengobati obesitas atau kegemukan adalah cara utama untuk menghindari diabetes. Diabetes mempercepat penyakit jantung koroner dan meningkatkan risiko serangan jantung.
  • Olahraga secara teratur

    Anda dapat melakukan kegiatan olahraga seperti berjalan kaki, jalan cepat, atau jogging. Kegiatan olahraga yang bukan bersifat kompetisi dan tidak terlalu berlebihan dapat menguatkan kerja jantung dan melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh.
  • Konsumsi antioksidan

    Polusi udara, asap kendaraan bermotor atau asap rokok menciptakan timbulnya radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat menyebabkan bisul atau endapan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyumbatan. Untuk mengeluarkan kandungan radikal bebas dalam tubuh, perlu adanya antioksidan yang akan menangkap dan membuangnya. Antioksidan dapat diperoleh dari berbagai macam buah-buahan dan sayuran.
  • Keturunan

    Seorang yang orang tua atau saudara kandungnya pernah mengalami serangan jantung sebelum usia 60 memiliki risiko lebih besar menderita penyakit ini. Karena itu, jika Anda memiliki kerabat yang pernah mengalami serangan jantung, sebaiknya Anda lebih berhati-hati dalam menjaga agar pola makan dan gaya hidup Anda dapat menunjang jantung sehat.

Mengatasi Penyakit Jantung

Jika Anda merasakan gejala awal penyakit jantung ataupun pernah mengalami serangan jantung ringan, jangan abaikan itu. Anda sangat membutuhkan penanganan dini oleh personel medis yang terlatih. Ini dapat menyelamatkan jantung dari kerusakan yang lebih parah dan bahkan dapat menghindari akibat yang lebih fatal seperti kematian.
Namun jika gejala serangan jantung mulai terjadi, sangat penting untuk segera mencari bantuan medis. Risiko kematian terbesar dari serangan jantung adalah dalam kurun waktu satu jam setelah terjadi serangan jantung. Perawatan yang cepat dan tepat dari tim medis dapat menyelamatkan otot jantung dari kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Semakin banyak otot jantung yang terselamatkan, semakin efektif jantung akan kembali memompa setelah serangan. Jangan menunda-nunda untuk mendapatkan bantuan medis karena merasa takut dianggap mengada-ada.
Bila telah terjadi penyumbatan, tindakan medis yang umumnya diambil adalah dengan pemasangan kateterisasi dan cincin yang menjaga agar pembuluh darah koroner tidak tersumbat. Tetapi, ada kemungkinan terjadi penyumbatan pada pembuluh lainnya.

Sayangi Jantung Anda

Melihat berharganya organ jantung ini untuk kelangsungan hidup, maka segeralah perbaiki gaya hidup Anda agar tetap sehat. Mulailah menikmati makanan yang sehat, bergizi dan rendah kolesterol. Hindari merokok dan stres. Serta berolahragalah secara teratur. Mulailah dengan gaya hidup yang sehat sejak hari ini untuk menyayangi jantung Anda.

Tes DNA, Apakah Akurat dan Dapat Dipercaya?

Tes DNA, Apakah Akurat dan Dapat Dipercaya?

·DNA merupakan kependekan dari deoxyribonucleic acid atau dalam Bahasa Indonesia sering juga disebut ADN yang merupakan kependekan dari asam deoksiribonukleat. DNA atau ADN ini merupakan materi genetik yang terdapat dalam tubuh setiap orang yang diwarisi dari orang tua. DNA terdapat pada inti sel di dalam struktur kromosom dan pada mitokondria.
Fungsinya sebagai cetak biru yang berfungsi sebagai pemberi kode untuk tiap manusia seperti untuk warna rambut, bentuk mata, bentuk wajah, warna kulit, dan lainnya. Pengenalan tentang struktur DNA diperkenalkan oleh Francis Crick, ilmuwan asal Inggris dan James Watson asal Amerika Serikat pada tahun 1953.
Struktur DNAUntuk mempermudah kita memahami seperti apa DNA, coba Anda pikirkan sebuah kalimat. Kalimat tersebut disusun dari beberapa kata. Dan setiap kata dibentuk dari beberapa abjad. Dapat dikatakan, abjad adalah unsur dasar dari banyak bahasa. Prinsip yang serupa juga bisa diterapkan pada DNA. Pada tingkat molekuler, "abjad" utama disediakan oleh DNA. Yang menakjubkan adalah bahwa "abjad" ini hanya terdiri dari empat huruf yaitu A, C, G, dan T, yang merupakan lambang basa kimia adenin, sitosin (cytosine), guanin, dan timin. Senyawa ini membentuk ikatan yang eksklusif, di mana adenin akan selalu berpasangan dengan timin dan guanin akan selalu berpasangan dengan sitosin.
Bentuk dari DNA adalah seperti spiral ganda yang menyatu dengan rapat. DNA terdiri dari 4 pasangan basa A, C, G, dan T yang merupakan komponen kimiawi yang mengandung nitrogen. Urutan basa-basa pada molekul DNA-lah yang menentukan informasi genetika yang terdapat di dalamnya. Singkatnya, urutan ini menentukan hampir segala sesuatu tentang Anda, dari warna rambut, warna kulit, hingga bentuk hidung Anda.
Setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom penentu jenis kelamin. Kromosom XX menentukan seseorang dengan jenis kelamin wanita dan XY untuk seseorang yang berjenis kelamin laki-laki. Kromosom ini didapat dari orang tua, separuh dari ibu dan separuh lagi dari ayah.

Tes DNA

DNA pada mitokondria yang dikenal dengan nama DNA mitokondria didapat secara keseluruhan dari ibu. Tes dengan mengembil DNA mitokondria seseorang dapat mengidentifikasi seseorang apakah memiliki hubungan keluarga dengan keluarga dari pihak ibu atau hubungan keluarga secara maternal. Caranya dengan membandingkan DNA mitokondria yang dimilikinya dengan ibu kandung, nenek atau saudara kandung dari ibu.
Karena seorang ibu menurunkan secara penuh DNA mitokondria kepada anaknya, bagaimana dengan ayah? Seorang ayah akan mewariskan kromosom Y pada anak laki-lakinya (karena kromosom Y hanya dimiliki laki-laki yang kromosom seksnya XY). Sedangkan anak perempuan tidak memiliki kromosom Y (kromosom seks perempuan XX).
Untuk membuktikan hubungan seseorang dengan keluarga pihak ayah bisa dilakukan dengan membandingkan kromosom Y seorang anak dengan ayah kandungnya atau dengan saudara kandung dari pihak ayah. Karena pemeriksaan kromosom Y hanya untuk anak laki-laki, maka bagaimana cara melakukan tes DNA pada seorang anak perempuan?
Tes DNA dilakukan dengan cara mengambil DNA dari kromosom somatik. Ikatan DNA pada bagian somatik hampir sama pada setiap orang karena berfungsi membentuk fungsi dan organ tubuh. Kesalahan urutan dapat menyebabkan gangguan pada manusia yang bersangkutan. Tetapi pada inti sel ini pula terdapat area yang dikenal sebagai area STR (short tandem repeats). Area ini tidak memberi kode untuk melakukan sesuatu.
STR inilah yang bersifat unik karena berbeda pada setiap orang. Perbedaanya terletak pada urutan pasang basa yang dihasilkan dan urutan pengulangan STR. Urutan AGACC akan berbeda dengan seseorang yang memiliki untaian AGACT. Begitu juga dengan urutan pengulangan yang bersifat unik. Pola STR ini diwariskan dari orang tua.

Bagaimana Tes DNA Dilakukan?

Dalam contoh ini adalah tes DNA untuk membuktikan apakah seorang anak benar-benar adalah anak kandung dari sepasang suami dan istri. Cara memeriksa tes DNA dilakukan dengan cara mengambil STR dari anak. Selanjutnya, di laboratorium akan dianalisa urutan untaian STR ini apakah urutannya sama dengan seseorang yang dijadikan pola dari seorang anak. Urutan tidak hanya satu-satunya karena pemeriksaan dilanjutkan dengan melihat nomor kromosom.
Misalnya, hasil pemeriksaan seorang anak ditemukan bahwa pada kromosom nomor 3 memiliki urutan AGACT dengan pengulangan 2 kali. Bila ayah atau ibu yang mengaku orang tua kandungnya juga memiliki pengulangan sama pada nomor kromosom yang sama, maka dapat disimpulkan antara 2 orang itu memiliki hubungan keluarga.
Seseorang dapat dikatakan memiliki hubungan darah jika memiliki 16 STR yang sama dengan kelurga kandungnya. Bila urutan dan pengulangan sama, maka kedua orang yang dicek memiliki ikatan saudara kandung atau hubungan darah yang dekat. Jumlah ini cukup kecil dibandingkan dengan keseluruhan ikatan spiral dalam tubuh kita yang berjumlah miliaran.
Tes DNA dilakukan dengan mengambil sedikit bagian dari tubuh Anda untuk dibandingkan dengan orang lain. Bagian yang dapat diambil untuk dicek adalah rambut, air liur, urine, cairan vagina, sperma, darah, dan jaringan tubuh lainnya. Sampel ini tidak akan berubah sepanjang hidup seseorang. Penggunaan alkohol, rokok atau obat-obatan tidak akan mengubah susunan DNA. Hasil tes DNA akan dijalankan dari pasien baru dapat dilihat 2-4 minggu. Biaya yang dibutuhkan untuk tes DNA saat ini sekitar 7 hingga 8 juta rupiah.

Manfaat Tes DNA

Tes DNA saat ini telah menjadi tren untuk membuktikan kaitan hubungan darah seseorang. Mengingat banyaknya perselingkuhan serta hubungan seks bebas, telah menghasilkan banyak anak yang dipertanyakan asal-usul orang tuanya. Karena itu, banyak pasangan melakukan tes DNA untuk membuktikan asal-usul anak yang dilahirkan tersebut.
Bahkan di beberapa negeri, sudah banyak klinik tes DNA. Banyak juga yang menggunakan tes DNA karena curiga terhadap pasangannya. Beberapa orang menyerahkan barang-barang pribadi milik pasangannya ke klinik untuk diteliti apakah pasangannya berhubungan dengan orang lain yang bukan pasangannya.
Di kepolisian, tes DNA juga digunakan untuk tes forensik. Tes DNA merupakan bukti yang paling akurat untuk tes identifikasi seseorang dibanding sidik jari. Dengan tes DNA, kepolisian bisa memberi bukti autentik mengenai mayat yang sudah hancur, asalkan bisa diambil sampel jaringan pada tubuh mayat tersebut.
Selain untuk mendeteksi hubungan keluarga, tes DNA juga berfungsi untuk mendeteksi suatu penyakit tertentu hingga penyakit yang kompleks. Dengan tes DNA bisa diketahui penyebab suatu penyakit apalagi yang bersifat penyakit turunan.
Kemajuan teknologi telah membuat lebih banyak hal baru yang bisa dipelajari. DNA pada saat ini merupakan tes identifikasi yang paling akurat dan dapat dipercaya. Informasi tentang tes DNA di atas semoga dapat membantu Anda mengenal lebih dekat dengan proses tersebut.

Inilah Ramuan Rahasia Kecantikan Wanita Brazil yang Eksotis

Inilah Ramuan Rahasia Kecantikan Wanita Brazil yang Eksotis

Inilah Ramuan Rahasia Kecantikan Wanita Brazil yang Eksotis. Wanita Brazil terkenal dengan kecantikannya yang eksotis. Kulit kecokelatan yang mulus dan lekuk tubuh seksi menjadi ciri postur kebanyakan wanita Brazil.

Penasaran ingin tahu rahasianya? Praktekkan ritual kecantikan wanita Brazil berikut ini, seperti dikutip dari laman Modernmom.com:
Minyak Babassu
Minyak ini berasal pohon babassu yang banyak tumbuh di Brazil. Dari kandungan nutrisinya, minyak babassu mirip dengan minyak kelapa. Namun, menurut beberapa penelitian menyatakan minyak ini telah mengalahkan popularitas minyak kelapa.
Pada suhu kamar, minyak ini memiliki bentuk semi-padat yang mencair ketika diterapkan pada tubuh. Jika dioleskan pada tubuh sensasi dingin di kulit terasa menyejukkan. Keajaiban minyak ini efektif bila diaplikasikan pada jenis kulit kering. Minyak ini bisa melembabkan tanpa membuat kulit terlihat berminyak.
Pasir hangat
Berbaring di atas pasir hangat, seperti yang sering dilakukan wanita Brazil, bisa menciptakan warna kulit kecokelatan yang eksotis. Wanita Brazil yang gemar ke pantai kerap melakukan ritual kecantikan ini. Mereka kerap menggosokkan pasir pantai secara perlahan sambil berjemur atau setelah berenang di pantai.
Di beberapa spa di Brazil memiliki perawatan kulit dengan pasir khusus.
Teknik pelurusan rambut
Meski memiliki wajah dan warna kulit eksotis, wanita Brazil punya masalah turun menurun soal rambut. Banyak di antara mereka yang memiliki jenis rambut yang sulit diatur.
Untuk mengatasi hal ini, pakar rambut di Brazil menciptakan teknik pelurusan rambut yang populer bernama, ‘Escova Progressiva’. Seperti yang dilaporkan salah satu majalah wanita ternama, Elle, teknik ini akan ‘menghaluskan’ rambut keriting. Karena proses ini menggunakan keratin, kerusakan rambut yang mungkin terjadi akibat teknik ini lebih minimal dibandingkan teknik pelurusan rambut lainnya, menurut kata Mark Garrison, pemilik salon ternama di New York, AS.
Jus buah khusus
Wanita Brazil rutin minum jus campuran wortel dan bit untuk kesehatan kulit mereka. Jus bit, khususnya, baik untuk memperlancar sirkulasi darah, yang bisa berefek positif pada kecantikan kulit.

Demensia Ancaman Kesehatan Terbesar Abad Ini

Demensia Ancaman Kesehatan Terbesar Abad Ini

Irna Gustia - detikHealth "Cara mencegah pikun", "mengatasi pikun", "penyebab pikun", "pikun", "pikun di usia muda", "pikun pada lansia", "pikun adalah"
img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Penyakit demensia atau pikun menjadi ancaman kesehatan terbesar di abad ini. Berbeda dengan penyakit parah lain seperti kanker yang masih bisa diobati, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan demensia.

Menurut dr Rizaldy Pinzon, Mkes, SpS dalam tulisannya didetikhealth, demensia adalah terminologi medis untuk pikun. Demensia menunjukkan adanya kemunduran yang terus menerus dari proses memori dan intelektual otak.

Data World Alzheimer Reports mencatat demensia akan menjadi krisis kesehatan terbesar di abad ini yang jumlah penderitanya terus bertambah.

Data terbaru menunjukkan, di tahun 2010 jumlah penduduk dunia yang terkena demensia sebanyak 36 juta orang dengan biaya perawatan yang harus dikeluarkan mencapai US$ 604 miliar (sekitar Rp 5.400 triliun).

Jumlah penderitanya diprediksi akan melonjak dua kali lipat di tahun 2030 sebanyak 66 juta orang dengan biaya yang harus dikeluarkan US$ 1,1 triliun (sekitar Rp 9.900 triliun). Kedua jumlah di atas merupakan 1 persen anggaran belanja global (GDP).

"Hanya dalam dua dasawarsa, jumlah orang yang menderita demensia di seluruh dunia sudah berlipat ganda dan para ahli memperingatkan akan terjadinya krisis kesehatan yang paling signifikan pada abad ke-21," kata Prof Martin Prince yang menulis laporan world alzheimer seperti dilansir BBC, Kamis (23/9/2010).

Menurut dr Rizaldy, demensia menunjukkan adanya kemunduran yang progresif dari proses memori dan intelektual otak. Karena berbagai fungsi otak seperti berbahasa, orientasi, kalkulasi atau berhitung, berpikir abstrak, dan pengambilan keputusan terganggu.

Pada tahap yang lebih lanjut, penderita pikun juga tidak dapat merawat dirinya sendiri. Gejala pikun ini tidak muncul mendadak tapi gejalanya sudah muncul beberapa tahun sebelumnya, yang diawali dengan mudah lupa.

Sebagian kasus demensia adalah demensia Alzheimer. Semakin tua seseorang akan semakin rentan untuk terkena demensia. Penyebab lain demensia adalah demensia vaskuler (akibat gangguan pembuluh darah otak), demensia akibat penyakit parkinson, dan demensia sekunder akibat obat atau penyakit infeksi.

Gejala Demensia

Gejala awal demensia ditandai oleh mudah lupa. Mudah lupa ini ada yang bersifat wajar (beniga) dan bersifat maligna atau mudah lupa yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala lupa beniga yang sering dikeluhkan adalah lupa nama, lupa janji, lupa menaruh benda, lupa nama peristiwa dan sebagainya. Pada kondisi ini aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan dengan baik.

Tapi jika sudah masuk mudah lupa maligna maka kondisi mudah lupanya semakin menjadi-jadi. Keluhan tidak hanya disampaikan oleh pasien, namun juga oleh banyak orang di sekitarnya.

Aktivitas rutin harian masih normal, tetapi ada gangguan dalam aktivitas yang kompleks misalnya berbelanja. Sayangnya, kondisi ini masih sering dianggap wajar dan orang sering mengatakan, 'bila sudah tua, ya wajar mudah lupa', padahal anggapan itu tidak tepat. Bila ditemukan pada tahap yang dini, demensia dapat diperlambat.

Bila penyakit berlanjut, maka akan muncul gejala demensia. Gejala yang umum dijumpai adalah gangguan memori dan ketidakmampuan mempertahankan informasi yang baru.

Memori yang terganggu pada umumnya adalah memori jangka pendek. Pada tahap ini pasien seringkali menunjukkan gangguan perilaku, mudah curiga, marah-marah, sering berbohong dan perilaku lain yang tidak wajar. Aktivitas harian pun mulai terganggu.

Pada tahap yang lebih lanjut sering dijumpai gangguan tidur malam hari, kesulitan menemukan kata-kata, dan kehilangan kontrol atas buang air kecil dan buang air besar. Pada tahap akhir penyakit, pasien lebih banyak di tempat tidur dan sepenuhnya tergantung pada bantuan orang lain.

Cara Mencegah

Seperti dilansir helpguide.org, sering panik, makan terburu-buru, gampang stres adalah awal yang memicu penurunan kemampuan otak.

Meski kasus kepikunan lebih banyak ditemui pada usia 40 hingga 50-an tahun, namun para ahli percaya terjadinya perubahan yang drastis di otak adalah saat orang berada dalam puncak hidupnya mulai usia 20-an tahun.

Hingga kini tidak ada ramuan ajaib atau formula rahasia yang bisa mencegah kepikunan selain membangun kebugaran fisik dan otak.

Beberapa cara untuk mencegah pikun adalah:
  1. Berolahraga, dengan berolahraga meningkatkan jumlah oksigen di otak
  2. Makan makanan yang sehat untuk tubuh dan otak
  3. Selalu aktif berpikir dengan cara membaca, menulis, melukis atau kegiatan berpikir lainnya
  4. Tidur teratur dan cukup
  5. Melindungi otak dari ancaman cedera atau yang lainnya.

Vaksin DBD Diuji Coba di Australia

Vaksin DBD Diuji Coba di Australia

KUPANG--MI: Vaksin untuk mencegah penyakit demam berdarah dengue sedang diuji coba penggunaannya di Perth, Australia, dan tahun depan dapat diperdagangkan apabila sudah ada izin dari badan resmi PBB untuk urusan kesehatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulagan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur Bobby Koamesah di Kupang, Rabu (22/9), mengatakan sebelum diperjualbelikan, Badan Resmi PBB untuk urusan kesehatan (WHO) melakukan adopsi terlebih dulu.

Ia mengatakan hal ini terkait dengan maraknya penderita penyakit demam berdarah dengue terutama pada peralihan musim dari hujan ke kemarau dan sulit untuk diantisipasi sebelumnya karena keterbatasan fasilitas.

Menurut dia, salah satu fasilitas yang ditunggu adalah vaksin DBD yang sebelumnya akan diadopsi WHO untuk uji kelayakan guna mengetahui apakah vaksin untuk melemahkan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae ini aman digunakan untuk manusia atau tidak.

Apabila layak, katanya, adakah dampak ikutannya setelah dilakukan vaksinasi untuk pengebalan daya tahan tubuh sehingga tahan terhadap serangan virus DBD.

Peter Richmond dari Perth Institut for Child Health Research menyebutkan kehadiran vaksin DBD penting untuk Asia Tenggara karena setiap tahun sekitar 200 juta orang menderita penyakit DBD. Bahkan akibat penyakit DBD ini, sekitar 50 persen penduduk dunia berada di zona berbahaya.

Peter mengatakan, vaksin ini telah dikembangkan Perusahaan Sanofi Pasteur selama hampir 10 tahun, dan sekarang merupakan tahap terakhir sebelum dipasarkan tahun depan.

Menurut Koamesah, penyakit DBD yang disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.

"Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi," katanya.

Penyakit ini, katanya, ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekial dan biasanya muncul dulu pada bagian bawah badan - pada beberapa pasien.

Dia mengatakan, gejalanya menyebar hingga menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare pilek ringan disertai batuk-batuk.

Kondisi waspada ini, katanya, perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi tiga hari berturut-turut.

"Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut," katanya.

Ia mengatakan demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam.

"Sesudah masa tunas atau inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami menderita penyakit ini, Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit," katanya.

Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung epistaksis mimisan, mulut, dan dubur. (Ant/OL-3)

Penanggulangan Anak dan Remaja Penderita HIV / AIDS

Penanggulangan Anak dan Remaja Penderita HIV / AIDS

HIV/AIDS bukanlah permasalahan medis atau perorangan semata, melainkan masalah kemanusiaan yang berdampak amat besar pada segala bidang kehidupan. Untuk itu kepedulian dan kerjasama berbagai pihak, baik pemerintah dan swasta, LSM, komunitas dan ODHA sangat dibutuhkan. Semua pihak harus berkontribusi melalui fungsi dan perannya secara sinergis. HIV/AIDS termasuk salah satu permasalahan yang harus segera ditindaklanjuti agar anak-anak dan remaja tidak menjadi korban penderita. Anak-anak dan remaja sebenarnya belum tahu apa dan kenapa HIV/AIDS itu. Maka untuk mencegah permasalahannya bagaimana kita (keluarga, lingkungan pendidikan, kesehatan, masyarakat, dll) dapat mensosialisasikan pola hidup yang baik pada anak dan remaja, meredam laju penyebaran HIV/AIDS tanpa stigma dan diskriminasi, mempromosikan terwujudnya langkah-langkah nyata pencegahan HIV/AIDS, perawatan dan dukungan terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
Pada Tahun 2006 Presiden memberikan amanat tertuang dalam Peraturan Presiden No. 75 tahun 2006, dimana dalam Bab V Pasal 15 Ayat 2 disebutkan bahwa “Semua biaya yang dibutuhkan bagi pelaksanaan tugas Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dibebankan kepada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah Provinsi”. Hal ini mengharuskan adanya peningkatan penanggulangan di seluruh Indonesia termasuk mewajibkan daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk mendorong adanya kebijakan penanggulangan dan pengalokasian dana penanggulangan HIV/AIDS melalui APBD. Sejalan dengan itu pemerintah melaksanakan strategi penanggulangan HIV dan AIDS melalui tiga periode yang dimuat dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 1994-2003, tahun 2003-2007 dan tahun 2007-2010. Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS berisikan:

1. TUJUAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
1.1. Tujuan Umum penanggulangan HIV dan AIDS
Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.
1.2. Tujuan Khusus Penanggulangan HIV dan AIDS
1.2.1. Menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan menciptakan suasana kondusif untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS dengan menitikberatkan pencegahan pada sub-populasi berperilaku resiko tinggi dan lingkungannya dengan tetap memperhatikan sub-populasi lainnya.
1.2.2. Menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan, pengobatan, dan dukungan kepada ODHA yang terintegrasi dengan upaya pencegahan.
1.2.3. Meningkatkan peran serta remaja, perempuan, keluarga dan masyarakat umum termasuk ODHA dalam berbagai upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
1.2.4. Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara lembaga pemerintah, LSM, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi dan mitra internasional di pusat dan di daerah untuk meningkatkan respons nasional terhadap HIV dan AIDS.
1.2.5. Meningkatkan koordinasi kebijakan nasional dan daerah serta inisiatif dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

2. DASAR KEBIJAKAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
2.1. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga;
2.2. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah, dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV dan AIDS;
2.3. Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIVdan AIDS sudah menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional dan penanggulangannya melalui “Gerakan Nasional Penanggulangan HIV and AIDS”;
2.4. Upaya penanggulangan HIV and AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV and AIDS;
2.5. Upaya penanggulangan HIV and AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender;
2.6. Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan yang lebih sehat;
2.7. Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai penularan HIV;
2.8. Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna napza suntik melalui kegiatan pengurangan dampak buruk (harm reduction) dilaksanakan secara komprehensif dengan juga mengupayakan penyembuhan dari ketergantungan pada napza.
2.9. Upaya penanggulangan HIV and AIDS merupakan upaya-upaya terpadu dari peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan data dan fakta ilmiah serta dukungan terhadap ODHA.
2.10.Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai harus diberikan sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan diberitahukan kepada yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada fihak lain.
2.11.Diusahakan agar peraturan perundang-undangan harus mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV and AIDS disemua tingkat.
2.12.Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada ODHA dan OHIDA.

3. STRATEGI
3.1. Meningkatkan dan memperluas upaya pencegahan yang nyata efektif dan menguji coba cara-cara baru;
3.2. Meningkatkan dan memperkuat sistem pelayanan kesehatan dasar dan rujukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah ODHA yang memerlukan akses perawatan dan pengobatan;
3.3. Meningkatkan kemampuan dan memberdayakan mereka yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan;
3.4. Meningkatkan survei dan penelitian untuk memperoleh data bagi pengembangan program penanggulangan HIV dan AIDS;
3.5. Memberdayakan individu, keluarga dan komunitas dalam pencegahan HIV dilingkungannya;
3.6. Meningkatkan kapasitas nasional untuk menyelenggarakan monitoring dan evaluasi penanggulangan HIV dan AIDS;
3.7. Memobilisasi sumberdaya dan mengharmonisasikan pemamfaatannya di semua tingkat.

AREA PRIORITAS PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
Area prioritas penanggulangan HIV dan AIDS untuk tahun 2007-2010 adalah sebagai
berikut:
1. Pencegahan HIV dan AIDS;
2. Perawatan, Pengobatan dan Dukungan kepada ODHA;
3. Surveilans HIV dan AIDS serta Infeksi menular Seksual;
4. Penelitian dan riset operasional;
5. Lingkungan Kondusif;
6. Koordinasi dan harmonisasi multipihak;
7. Kesinambungan penanggulangan

1. AREA PENCEGAHAN HIV DAN AIDS
Penyebaran HIV dipengaruhi oleh perilaku berisiko kelompok-kelompok masyarakat. Pencegahan dilakukan kepada kelompok-kelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi ancaman yang dihadapi. Kegiatankegiatan dari pencegahan dalam bentuk penyuluhan, promosi hidup sehat, pendidikan sampai kepada cara menggunakan alat pencegahan yang efektif dikemas sesuai dengan sasaran upaya pencegahan. Dalam mengemas program-program pencegahan dibedakan kelompok-kelompok sasaran sebagai berikut:
• Kelompok tertular (infected people)
Kelompok tertular adalah mereka yang sudah terinfeksi HIV. Pencegahan ditujukan untuk menghambat lajunya perkembangan HIV, memelihara produktifitas individu dan meningkatkan kwalitas hidup.
• Kelompok berisiko tertular atau rawan tertular (high-risk people)
Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku sedemikian rupa sehingga sangat berisiko untuk tertular HIV. Dalam kelompok ini termasuk penjaja seks baik perempuan maupun laki-laki, pelanggan penjaja seks, penyalahguna napza suntik dan pasangannya, waria penjaja seks dan pelanggannya serta lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya, narapidana termasuk dalam kelompok ini. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman.
• Kelompok rentan (vulnerable people)
Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang karena lingkup pekerjaan, lingkungan, ketahanan dan atau kesejahteraan keluarga yang rendah dan status kesehatan yang labil, sehingga rentan terhadap penularan HIV. Termasuk dalam kelompok rentan adalah orang dengan mobilitas tinggi baik sipil maupun militer, perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima transfusi darah dan petugas pelayanan kesehatan. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. (Menghambat menuju kelompok berisiko)
• Masyarakat Umum (general population)
Masyarakat umum adalah mereka yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok terdahulu. Pencegahan ditujukan untuk peningkatkan kewaspadaan, kepedulian dan keterlibatan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkunagnnya.
1.1. Tujuan
Tujuan program-program pencegahan adalah agar setiap orang mampu melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada orang lain.
1.2. Program
Untuk mencapai tujuan pencegahan dengan berbagai sasaran maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program–program sebagai berikut:
1.2.1. Program peningkatan pelayan konseling dan testing sukarela
Pelayanan konseling dan testing sukarela ditingkatkan jumlah dan mutunya dengan melibatkan kelompok dukungan sebaya sehingga mencapai hasil maksimal.
1.2.2. Program peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko
Peningkatan penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko ditingkatkan untuk mencegah infeksi HIV dan IMS. Penggunaan kondom perempuan dimungkinkan untuk digunakan pada tempat-tempat yang memerlukan. Program mencakup juga Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention =BCI).
1.2.3. Program pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik
Pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik untuk mencegah penularan HIV dilaksanakan secara komprehensif dan bersama-sama dengan semua pemangku kepentingan terkait. Program juga dikaitkan dengan upaya pengurangan kebutuhan napza suntik bagi penasun. Program diutamakan di seluruh provinsi di Jawa dan ibu kota seluruh provinsi. Program mencakup juga Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention =BCI).
1.2.4. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak
Pencegahan penularan dari ibu HIV positif kepada bayinya dilaksanakan terutama di daerah epidemi terkonsentrasi dan di provinsi Papua dan Irian Jaya Barat.
1.2.5. Program penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS)
Penderita IMS mempunyai risiko 2-9 kali lebih besar untuk tertular HIV dibandingkan dengan bukan penderita. Program penanggulangan IMS meliputi surveilans, penemuan, pengobatan dan pencegahan ditingkatkan di semua daerah.
1.2.6. Program penyediaan darah dan produk darah yang aman
Penyediaan darah dan produk darah yang aman diupayakan di semua unit transfusi darah baik yang berada di bawah binaan Palang Merah Indonesia (PMI) maupun yang berada di rumah sakit pemerintah dan swasta. Diutamakan di daerah dengan prevalensi tinggi.
1.2.7. Program peningkatan kewaspadaan universal
Penerapan kewaspadaan universal harus dilaksanakan dengan benar oleh petugas dan masyarakat yang lansung terpapar seperti petugas pelayanan kesehatan, petugas sosial, polisi, penyelenggara jenazah, petugas lapas dan lainnya. Pengetahuan dan ketrampilan petugas dan sarana serta prasarana yang diperlukan perlu disediakan dengan cukup.
1.2.8. Program komunikasi publik
Komunikasi publik yang baik akan menurunkan derajat kerentanan dari kelompok– kelompok rentan. Upaya ini dilakukan melalui komunikasi, informasi, pendidikan, penyuluhan, tatap muka, pengurangan kemiskinan, pembinaan ketahanan keluarga dan penyetaraan gender dengan menggunakan jalur komunikasi dan media yang tersedia.

2. AREA PERAWATAN, PENGOBATAN DAN DUKUNGAN KEPADA ODHA
Peningkatan jumlah penderita AIDS memerlukan peningkatan jumlah dan mutu layanan perawatan dan pengobatan. Peningkatan juga dilakukan bagi dukungan maksimal kepada ODHA. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan klinis dan pendekatan berbasis masyarakat dan keluarga. Universal Access yang bertujuan memberikan kemudahan kepada mereka yang memerlukan untuk akses kepada layanan perawatan dan pengobatan melandasi program – program pada area ini.
2.1. Tujuan
Mengurangi penderitaan akibat HIV dan AIDS dan mencegah penularan lebih lanjut infeksi HIV serta meningkatkan kwalitas hidup ODHA.
2.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
2.2.1. Program peningkatan sarana pelayanan kesehatan
Jumlah dan mutu pelayan untuk konseling dan testing sukarela (VCT), pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya (PMTC) dan perawatan, pengobatan dan dukungan pada ODHA (CST) ditingkatkan.
2.2.2. Program peningkatan penyediaan, distribusi obat dan reagensia
Untuk memenuhi kebutuhan ODHA dan sejalan dengan peningkatan jumlah sarana perawatan dan pengobatan, ketersediaan ARV, obat infeksi oportunistik dan reagensia ditingkatkan jumlah dan mutunya serta harganya diupayakan terjangkau. Manajemen obat dan reagensia disempurnakan sehingga pengadaan dan distribusi obat dan reagensia terjamin.
2.2.3. Program pendidikan dan pelatihan
Peningkatan jumlah dan mutu pelayanan dan dukungan kepada ODHA membutuhkan tenaga yang berilmu, terampil dan beretika. Pendidikan dan pelatihan teknis diberikan kepada mereka yang berkarya dalam upaya penanggulangan AIDS sesuai dengan bidang kerjanya.
2.2.4. Program peningkatan penjangkauan dan dukungan ODHA
Upaya yang sungguh-sungguh untuk menjangkau sedikitnya 80% kelompok berperilaku risiko tinggi agar mereka yang memerlukan perawatan dan pengobatan dapat akses kepada pencegahan, perawatan, pengobatan dan dukungan yang diperlukan.

3. AREA SURVEILANS HIV DAN AIDS SERTA IMS
Besaran, kecenderungan dan distribusi persebaran HIV dan AIDS diketahui dari data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan surveilans penyakit. Surveilans penyakit dan surveilans perilaku bersama-sama memberikan petunjuk tentang hasil upaya penanggulangan dan amat diperlukan bagi perumusan kebijakan dan perencanaan. Kegiatan surveilans akan terus disempurnakan baik metodologinya maupun implementasinya sehingga hasilnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain surveilans HIV dan AIDS dan perilaku, surveilans IMS ditingkatkan pelaksanaannya dan hasilnya dipublikasikan agar dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.
3.1. Tujuan
Untuk memperoleh data dan informasi yang valid tentang besaran, kecenderungan dan distribusi persebaran HIV dan AIDS serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
3.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
3.2.1. Program peningkatan surveilans HIV
Pelaksanaan surveilans HIV pada sub-populasi dengan berbagai tingkat risiko penularan diperluas wilayah cakupannya dan ditingkatkan mutunya. Di daerah dengan tingkat generalized epidemic dilaksanakan surveilans HIV di populasi umum.
3.2.2. Program Peningkatan surveilans perilaku
Pelaksanaan surveilans perilaku ditingkatkan wilayah cakupan dan mutunya.Variabel yang digunakan dipilih variable yang sensitif yang dapat menggambarkan hasil program intervensi perubahan perilaku.
3.2.3. Program peningkatan surveilans IMS
Pelaksanaan surveilans IMS ditingkatkan wilayah cakupan dan mutunya. Dan juga digunakan untuk mengetahui hasil program intervensi perilaku dan program penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko.
3.2.4. Program peningkatan laboratorium HIV
Laboratorium HIV untuk keperluan surveilans, penegakan diagnosis dan pemantauan proses pengobatan ditingkatkan baik jumlahnya maupun mutu pemeriksaannya.
3.2.5. Program peningkatan mutu pelaporan
Pelaporan merupakan aspek penting dari surveilans. Laporan surveilans dibuat sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh mereka yang membutuhkan, akurat dan tepat waktu.

4. AREA PENELITIAN DAN RISET OPERASIONAL
Upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang dan akan diselenggarakan memerlukan pengembangan terus menerus. Banyak aspek penanggulangan yang belum diketahui. Perbedaan laju epidemi di berbagai daerah perlu dicari faktor-faktor yang menyebabkannya. Penelitian dan riset operasional diharapkan mampu memberikan jawaban atas hal- hal tersebut sehingga ditingkatkan pada empat tahun kedepan. Untuk melaksanakan penelitian yang bermutu tinggi, dipersiapkan tenaga-tenaga peneliti di semua tingkat. Selain daripada itu ditingkatkan kerjasama antar pusat-pusat penelitaian HVI dan AIDS di dalam negeri dan di luar negeri. Inventory hasil penelitian dilakukan sesuai dengan tatacara yang lazim. Setiap hasil penelitian dipublikasikan secara luas sehingga dapat diakses oleh yang
memerlukan.
4.1. Tujuan
Penelitian dan riset operasional HIV dan AIDS bertujuan untuk memperoleh data dan fakta yang terpercaya sebagai dasar perbaikan dan pengembangan upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
4.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
4.2.1. Program riset operasional
Berbagai upaya penanggulangan yang sedang diselenggarakan memerlukan penelitian untuk perbaikan kinerjanya agar lebih efektif dan efisien. Hasil-hasil survei dapt dijadikan petunjuk untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.
4.2.2. Program penelitian resistensi obat antiretroviral
Penggunaan ARV yang semakin meluas dengan pengawasan yang tidak selalu dapat dilakukan berpotensi untuk menimbulkan resistensi ARV. Penelitian tentang kemungkinan resistensi ini dilakukan untuk kewaspadaan dan perencanaan pengadaan ARV lini berikutnya.
4.2.3. Program penelitian obat tradisional HIV dan AIDS
Indonesia kaya dengan flora dan fauna sebagai bahan pembuat obat-obatan. Beberapa produk diklaim sebagai bermamfaat untuk pengidap HIV dan AIDS. Penelitian obat tradisional diarahkan untuk mencari bukti-bukti ilmiah tenang obat-obat tradisional tersebut sekaligus mencari peluang-peluang lain.
4.2.4. Program penelitian dampak sosial ekonomi dan budaya HIV dan AIDS
Penelitian terhadap dampak sosial ekonomi dan budaya dari HIV dan AIDS dilaksanakan sebagai bahan advokasi dan penyusunan program dukungan pada ODHA
4.2.5. Penelitian epidemiologi dan perilaku
Penelitian epidemiologi dan perilaku dilaksanakan untuk mengetahui lebih dalam tentang perilaku epidemi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasilnya merupakan data dan fakta yang paling mendasar dalam perumusan kebijakan upaya penanggulangan.

5. AREA LINGKUNGAN KONDUSIF
Lingkungan yang kondusif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS
diperlukan agar upaya-upaya tersebut dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan masalah HIV dan AIDS merupakan masalah yang kompleks dan unik. Deklarasi UNGASS 2001 yang mengamanatkan bahwa tahun 2003 negara mengesahkan,mendukung dan menegakkan peraturan dan ketentuan lain untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan memastikan pemilikan hak-hak azasi dan kemerdekaan secara penuh oleh ODHA dan sub-populasi rentan lainnya belum sepenuhnya tercapai sehingga perlu terus diupayakan.
5.1. Tujuan
Meningkatkan pembuatan peraturan perundangan dan ketentuan-ketentuan lain di pusat dan daerah dalam rangka menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
5.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
5.2.1. Program advokasi dan sosialisasi
Meningkatkan sosialisasi dan advokasi upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS kepada eksekutif dan legislatif di pusat dan daerah agar memahami masalah yang dihadapi yang memerlukan pengaturan pemerintah.
5.2.2. Program peningkatan kapasitas
Meningkatkan kapasitas anggota legislatif daerah dalam menciptakan peraturan-peraturan di daerah dalam mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif di daerah.
5.2.3. Program peningkatan kapasitas organisasi-organisasi masyarakat sipil
Organisasi masyarakt sipil termasuk LSM dan KDS ditingkatkan kemampuannya untuk turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peneyelenggaraan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah.

6. AREA KOORDINASI DAN HARMONISASI MULTIPIHAK
Masalah HIV dan AIDS bukan lagi masalah kesehatan semata akan tetapi telah menjadi masalah sosial yang sangat komplek dan unik.Upaya pencegahan dan penanggulangannya memerlukan berbagai pendekatan dan diselenggarakan oleh berbagai pihak. Peranan utama dijalankan oleh masyarakat dengan arahan dan pembinaan oleh sektor-sektor pemerintah. Pemerintah berperan sebagai pemimpin upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS baik di pusat maupun di daerah. Mitra internasional membantu penyelenggaraan tersebut. Banyaknya pemangku kepentingan yang menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS ini, mengharuskan adanya koordinasi yang baik sejak perencanaan sampai evaluasinya. Harmonisasi dimaksudkan agar penyelenggaraan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS berjalan selaras dan seirama sehingga merupakan orkestra aktivitas yang padu, terarah dan mencapai sasaran. Harmonisasi diupayakan di semua tingkat penyelenggaraan.
6.1. Tujuan
Menyelaraskan dan mengkoordinasikan berbagai program dan kegiatan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang diselenggarakan pemerintah, masyarakat sipil dan mitra internasional sehingga mencapai tujuan yang diinginkan.
6.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
6.2.1. Program penguatan kelembagaan
Sebagai lembaga yang mengemban tugas mengkoordinsikan dan mengharmoniasikan berbagai program, KPA pada semua tingkat akan terus diperkuat dan ditingkatkan kemampuannya dengan meningkatkan kemampuan SDM, melengkapi sarana kerja, dan mengusahakan anggaran yang cukup untuk kegiatan operasional.
6.2.2. Program peningkatan jaringan informasi dan komunikasi
Adanya jaringan informasi yang luas dan berfungsi baik mempermudah dilakukannya koordinasi dan harmonisasi upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Jaringan ini diperluas disemua tingkat. Sarana teknologi informasi disempurnakan sehingga berfungsi dengan baik.
6.2.3. Program peningkatan kerjasama internasional
Kerjasama internasional yang sudah terjalin ditingkatkan. Kerjasama tersebut meliputi kerjasama regional dan global. Di dalam negeri kerjasama dilakukan dengan mitra internasional.

7. AREA KESINAMBUNGAN PENANGGULANGAN
Memperhatikan kecenderungan epidemi HIV dan AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, upaya pencegahan dan penaggulangan di Indonesia akan memakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS harus dapat dijamin kesinambungannya. Kesinambungan upaya ini sangat ditentukanoleh komitmen politik, kepemimpinan yang kuat, tersedianya dana yang terus menerus, perawatan sarana dan prasarana yang digunakan serta pelibatan seluruh unsur masyarakat termasuk mereka yang sudah terinfeksi.
7.1. Tujuan
Menjamin kelansungan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di setiap tingkat administrasi melalui komitmen yang tinggi, kepemimpinan yang kuat, didukung oleh informasi dan sumberdaya yang memadai.
7.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
7.2.1. Advokasi
Advokasi dilakukan secara terus menerus kepada para pengambil keputusan di pusat dan di daerah, baik kepada eksekutif, legislatif, maupun kepada pimpinan partai politik dan organisasi masyarakat sipil lainnya.
7.2.2. Peningkatan sumber daya manusia
Melalui pendidikan dan pelatihan ditingkatkan jumlah dan mutu para penyelenggara upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah. Pendidikan dan pelatihan dimaksud diperoleh di dalam negeri dan di luar negeri.
7.2.3. Peningkatan sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana di unit-unit pelayanan HIV dan AIDS ditingkatkan jumlah dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Dilakukan pengawasan kwalitas (quality control) atas sarana dan prasarana tersebut.

PENYELENGGARA UPAYA PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat dan pemerintah bersama-sama dibantu oleh mitra internasional. Pemerintah meliputi departemen, kementerian, lembaga non-departemen dan dinas-dinas daerah serta TNI dan POLRI. Masyarakat meliputi LSM, swasta dan dunia usaha, civil soceity lainnya dan masyarakat umum. KPA di semua tingkat berfungsi sebagai koordinator. Para pemangku kepentingan mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing dan bekerja sama dalam semangat kemitraan. Pokok-pokok tugas dan tanggung jawab masing-masing penyelenggara adalah sebagai berikut:
1. PEMERINTAH PUSAT
Departemen, Kementerian, Lembaga Non- Departemen, TNI dan POLRI membentuk Kelompok Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS dan membuat rencana pencegahan dan penanggulangan yang selaras dengan Stranas HIV dan AIDS 2007 – 2010 sesuai dengan area kegiatan instansi bersangkutan. KPAN mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dari unsur pemerintah pusat.
2. PEMERINTAH PROVINSI
Dinas-dinas Provinsi, Kantor Wilayah dari instansi pusat di provinsi, komando TNI dan POLRI di provinsi menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dipimpin oleh Gubernur. Pemerintah Propinsi membentuk dan memfungsikan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan menyediakan sumberdaya untuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan di propinsi.
3. PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Dinas-dinas Kabupaten/Kota, Kantor Departemen dari instansi pusat di kabupaten/kota, komando TNI dan POLRI di kabupaten/kota menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dipimpin oleh Bupati/Walikota. Pemerintah Kabupaten/Kota membentuk dan memfungsikan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten/Kota dan menyediakan sumberdaya untuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan di kabupaten/kota.
4. PEMERINTAH KECAMATAN DAN KELURAHAN/DESA
Di wilayah kecamatan dan kelurahan /desa yang berpotensi adanya penularan HIV, dapat dibentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS yang masing-masing dipimpin oleh Camat dan Lurah/Kepala Desa. Tugas utama adalah menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang dirancang oleh KPA Kabupaten/Kota.
5. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DI DAERAH
DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dengan kepedulian yang tinggi menampung informasi dari masyarakat tentang situasi HIV dan AIDS di wilayah urusannya dan sesuai dengan tugas dan fungsinya membantu upaya pencegahan dan penanggulangan. Bersama dengan KPAN/KPA di daerah dapat membentuk Forum Komunikasi.
6. KOMISI PENANGGULANGAN AIDS NASIONAL
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sebagai penanggung jawab upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia mempunyai tugas yang sangat berat sehingga memerlukan kawenangan yang jelas untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan efektif. Tugas pokok dan fungsi KPA Nasional sebagaimana tercantum dalam Perpres No.75 Tahun 2006 adalah sebagai berikut:
6.1. Menetapkan kebijakan dan rencana strategis nasional serta pedoman umum pencegahan, pengendalian dan penaggulangan AIDS;
6.2. Menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan;
6.3. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengendalian dan penaggulangan AIDS;
6.4. Melakukan penyebarluasan informasi mengenai AIDS kepada berbagai media massa, dalam kaitan dengan pemberitaan yang tepat dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat;
6.5. Melakukan kerjasama regional dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan AIDS;
6.6. Mengkoordinasikan pengelolaan dan dan informasi yang terkait dengan masalah AIDS;
6.7. Mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS;
6.8. Memberikan arahan kepada Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Kabupaten / Kota dalam rangka pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS.
7. KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA
Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten / Kota dibentuk dan dipimpin masing-masing oleh Gubernur dan Bupati / Walikota. KPA di daerah membantu kelancaran pelaksanaan tugas KPA Nasional. Tugas pokok dan fungsi KPA Provinsi dan KPA Kabupaten / Kota adalah sebagai berikut:
7.1. Merumuskan kebijakan, strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS di wilayahnya sesuai dengan kebijakan, strategi dan pedoman yang ditetapkan oleh KPA nadional. Implementasi dari tugas pokok tersebut meliputi fungsi-fungsi sebagai berikut:
7.1.1. Memimpin, mengelola dan mengkoordinasikan kegiatan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan HIV dan AIDS di wilayahnya;
7.1.2. Menghimpun, menggerakkan dan memamfaatkan sumberdaya yang berasal dari pusat, daerah, masyarakat dan bantuan luar negeri secara efektif dan efisien
7.1.3. Melakukan bimbingan dan pembinaan kepada pemangku kepentingan dalam pencegahan, pengendalian dan penanggulangan HIV dan AIDS di wilayah kerjanya
7.1.4. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dan menyampaikan laporan berkala secara berjenjang kepada KPA Nasional.
8. MASYARAKAT SIPIL (CIVIL SOCEITY)
Civil soceity merupakan mitra kerja yang penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi Non- Pemerintah lainnya seperti Kelompok Dukungan Sebaya telah memberikan kontribusi yang bermakna karena mampu menjangkau sub-populasi berperilaku berisiko dan menjadi pendamping dalam proses perawatan dan pengobatan ODHA. Civil Soceity berperan dalam penyuluhan, pelatihan, pendampingan ODHA, pemberian dukungan dan konseling serta melakukan pelayanan VCT. Dimasa mendatang peran ini diharapkan meningkat dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga civil soceity dapat menjalankan perannyadengan tenang dan aman.
9. DUNIA USAHA DAN SEKTOR SWASTA
Jenis pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja berpotensi bagi pekerja untuk terpapar HIV. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah mengakui bahwa HIV dan AIDS sebagai persoalan dunia kerja. Prinsip-prinsip utama Kaidah ILO tentang HIV dan AIDS dan Dunia Kerja perlu ditingkatkan implementasinya di dunia kerja Indonesia melalui kesepakatan tripartit. Implementasi Kaidah ILO tersebut dijabarkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di dunia kerja dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.
10. TENAGA PROFESIONAL, ORGANISASI PROFESI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pelibatan tenaga profesional baik secara individu maupun melalui organisasi profesi dan lembaga pendidikan tinggi. Para profesional berperan dalam perumusan kebijakan, penelitian, riset operasional.
11. KELUARGA DAN MASYARAKAT UMUM
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan dukunganmasyarakat luas. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat mempunyai tugas penting dan sangat mulia sebagai benteng pertama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Ketahanan keluarga dalam arti yang sesungguhnya perlu tetap diupayakan dan ditingkatkan. Selain itu keluarga mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi ODHA dengan berempati dan menjauhkan sikap diskriminatif terhadap mereka.Masyarakat Umum berperan membantu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan masing-masing dengan memberikan kemudahan dan meciptakan lingkungan yang kondusif. Untuk menjalankan fungsi tersebut, masyarakat berhak menerima informasi yang benar tentang masalah HIV dan AIDS.
12. ORANG DENGAN HIV DAN AIDS (ODHA)
Peranan ODHA dalam upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS di masa mendatang semakin penting. Selaras dengan prinsip Greater Involvement of People with AIDS (GIPA) ODHA berhak berperan pada semua tingkat proses pecegahan dan penanggulangan mulai dari tingkat perumusan kebijakan sampai pada monitoring dan evaluasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, ODHA baik secara individual maupun organisasi meningkatkan persiapan diri. Seimbang dengan hak-haknya, ODHA bertanggung jawab untuk mencegah penularan HIV kepada pasangannya dan orang lain.

KERJASAMA INTERNASIONAL
Kerjasama internasional dengan para mitra bilateral dan multilateral adalah suatu komponen yang bermakna dalam penanggulangan masalah HIV dan AIDS dan telah dirasakan mamfaatnya. Bantuan telah diberikan antara lain bagi program peningkatan kapasitas kelembagaan baik di pusat maupun di daerah, programperawatan, pengobatan dan dukungan pada ODHA, program pengurangan dampak buruk di kalangan penasun , program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dan program penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja. Kerjasama internasional diperlukan dan diharapkan berlanjut, dan implementasinya mengacu kepada Strategi Nasional 2007-2010 dan Rencana Aksi Nasional 2007-2010. Berdasarkan Perpres No 75/2006 mobilisasi dan pemanfaatan bantuan dana dan bantuan teknis dari mitra internasional akan diarahkan dan dikoordinasikan oleh KPAN. Evaluasi menggunakan sistem monitoring dan evaluasi nasional serta menggunakan instrumen-instrumen pemantauan yang baku.
Bantuan mitra internasional diperlukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan prioritas penanggulangan HIV dan AIDS untuk 2007-2010, terutama pengembangan kelembagaan; perawatan, dan pengobatan dukungan terhadap ODHA; peningkatan upaya pencegahan terutama di kalangan kelompok berperilaku risiko tinggi; pengembangan dan pemanfaatan sistem monitoring dan evaluasi nasional; penyediaan obat antiretroviral; pengembangan pencegahan penularan dari ibu ke anak, penanggulangan masalah-masalah lintas batas HIV dan AIDS, serta penelitian. KPAN memfasilitasi upaya menuju harmonisasi dan koordinasi di antara para mitra internasional, dan dengan berbagai sektor pemerintah terkait serta pemangku kepentingan lainnya (masyarakat, dunia usaha, LSM, universitas). Hal ini bertujuan juga agar bantuan yang diperlukan dapat tersedia dan menjangkau mereka yang sangat membutuhkan dengan cepat dan efisien. Untuk mengetahui dan mendukung pencapaian harmonisasi dan koordinasi yang lebih kuat dan perencanaan strategis yang baik dari bantuan mitra internasional, KPAN perlu mempunyai sistem informasi khusus. Agar sistem ini berjalan dengan baik dan dirasakan manfaatnya, maka KPAN sebagai koordinator memerlukan dukungan dan partisipasi aktif dari mitra internasional internasional.

PELAKSANAAN STRATEGI NASIONAL
Strategi Nasional HIV dan AIDS dilaksanakan sejalan dengan rencana pembangunan
nasional. Pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, pelaksanaan Stranas akan disesuaikan dengan rencana pembangunan daerah masing-masing. Pelaksanaan STRANAS harus konsisten dengan tujuan-tujuan kebijakan yang ingin dicapai, serta ditujukan untuk merespon situasi dan kondisi lokal dan nasional HIV dan AIDS. STRANAS merupakan living document sehingga terbuka untuk perubahan atas dasar kebutuhan respons. Peran KPAN dalam pelaksanaan SRTANAS sesuai dengan “Three One Principle” yang dianjurkan oleh UNAIDS, yaitu:
1. setiap negara perlu mempunyai satu institusi yang mengkoordinasikan upaya penanggulangan,
2. satu strategi nasional yang menjadi acuan semua pihak dalam menyelenggarakan upaya penanggulangan, dan
3. satu sistem monitoring dan evaluasi nasional yang berlaku secara nasional.
KPAN menjabarkan lebih lanjut STRANAS dalam suatu RENCANA AKSI NASIONAL (RAN) untuk periode yang sama. Sektor dan pemangku kepentingan lainnya di tingkat Pusat dan KPA di Daerah membuat RENCANA STRATEGI PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS bidang masing-masing dan atau daerah dengan menggunakan STRANAS dan RAN 2007-2010 sebagai acuan utama.

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk:
1. menjamin bahwa program pencegahan HIV AND AIDS mencapai tingkat efisiensi dan akuntabilitas yang tinggi,
2. membantu mengintensifkan dan meningkatkan pelaksanaan program,
3. memungkinkan tindakan korektif untuk mengarahkan program, dan
4. menghasilkan informasi yang berguna bagi pelaksanaan program serta sebagai masukan untuk penyusunan program lanjutan. Hasil monitoring dan evalusi dilaporkan secara berjenjang sesuai dengan Perpres No. 75 Tahun 2006.
Pedoman Nasional Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan HIV dan AIDS yang telah diterbitkan (2006) digunakan untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan STRANAS 2007 – 2010 bagi KPA di semua tingkat. Pedoman tersebut dibuat sederhana dan mudah digunakan sehingga dapat membantu KPA di berbagai tingkat melakukan monev dan pelaporan seperti yang diharapkan. Sosialisasi dan pelatihan tentang penggunaan Pedoman tersebut akan terus dilakukan agar pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan dari KPA pada semua tingkat dapat berjalan secara optimal.

PENDANAAN
Sejalan dengan makin meningkatnya penularan HIV, program penanggulangan HIV dan AIDS semakin beragam dengan cakupan yang semakin luas. Peningkatan tersebut membutuhkan dana yang besar Dana yang diperlukan untuk melaksanakan STRANAS ini sesuai dengan amanat Perpres No 75 tahun 2006 bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber-sumber lain. Sumber lain dimaksud mencakup dana dari swasta, masayarakat dan bantuan internasional. Peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam membantu pendanaan untuk program penanggulangan HIV dan AIDS akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan mobilisasi dana di bawah koordinasi KPA di berbagai tingkat. Bantuan internasional dalam bentuk hibah dan bantuan teknis digunakan untuk meningkatkan upaya dan tidak diartikan sebagai pengganti dana yang bersumber dari pemerintah Pengelolaan dana menganut prinsip transparansi, akuntabilitas, efisensi , efektivitas dan harmoni. KPAN mengkoordinasikan mobilisasi dan penggunaan dana untuk menjamin tidak terjadinya pemborosan dan dipenuhinya prinsip tersebut.

Hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meninggil saat hamil. Keadaan ini biasanya mulai pada trimester ketiga, atau tiga bulan terakhir kehamilan. Kadang-kadang timbul lebih awal, tetapi hal ini jarang terjadi.

Tidak diketahui mengapa tekanan darah bisa meninggi di saat hamil. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama, dan lebih jarang pada hamil anak selanjutnya.

Dikatakan tekanan darah tinggi dalam kehamilan jika tekanan darah sebelum hamil (saat periksa hamil) lebih tinggi dibandingkan tekanan darah di saat hamil.

Bagaimana suatu peristiwa kehamilan dapat memicu atau memperberat hipertensi merupakan pertanyaan yang masih belum memperoleh jawaban yang memuaskan.

Angka kejadian Hipertensi dalam Kehamilan kira-kira 3.7 % seluruh kehamilan.

Walaupun penyebab pasti mengapa tekanan darah bisa meninggi di saat hamil, tapi perlu dilakukan pencegahan terhadap factor-faktor yang jelas beresiko mencetuskan terjadinya hipertensi. Keadaan ini paling sering terjadi pada hamil anak pertama, dan lebih jarang pada hamil anak selanjutnya. Beberapa faktor yang ditengarai berhubungan dengan kejadian hipertensi antara lain pola makan yang tidak sehat, karakteristik individual seperti usia, faktor genetik, dan kondisi psikologis emosional. Pada saat hamil muda ibu biasanya suka mengkonsumsi makanan yang berasa kecut dan asin dimana makanan tersebut sering mengandung kadar natrium (garam) yang tinggi.

Banyak saran yang diberikan untuk menghindarkan hipertensi misalnya dengan menghindari konsumsi daging berlebihan, protein, purine, lemak, hidangan siap saji (snack), dan produk-produk makanan instan lain.

John dkk (2002) : diet buah dan sayur banyak mengandung aktivitas non-oksidan yang dapat menurunkan tekanan darah.

Zhang dkk (2002) : kejadian PE pada pasien dengan asupan vitamin C harian kurang dari 85 mg dapat meningkat menjadi 2 kali lipat.

Obesitas adalah faktor resiko yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya PE. Obesitas pada ibu tidak hamil dapat menyebabkan aktivasi endotel dan respon inflamasi sistemik yang berhubungan dengan arterosklerosis.

Kadar C-reactive protein (“inlamatory marker”) meningkat pada obesitas yang seringkali berkaitan dengan PE

Sumber :

Dekker GA, Sibai BM : Etiology and pathogenesis of preeclampsia: Current concepts. Am J Obstet Gynecol 179:1359, 1998

John JH, Ziebland S, Yudkin P, et al : Effects of fruit and vegetables consumption on plasma antioxidant concentration and blood pressure: A randomized controlled trial. Lancet 359:1969.2002

Zhang C, Williams MA, King IB, et al : Vitamin C and the risk of preeclampsia-result from dietary questionnaire and plasma assay. Epidemiology 13:382,2002

12 Hal yang Tidak Dianjurkan Selama Hamil

12 Hal yang Tidak Dianjurkan Selama Hamil

Kehamilan memang tak perlu dianggap menghambat. Kendati begitu, ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan selama ibu berbadan dua.
Menjaga kondisi janin dan diri sendiri selama hamil perlu dilakukan secara cermat. Terlebih bila kehamilannya tergolong berisiko tinggi, seperti memiliki riwayat hipertensi, preeklampsia, asma, atau kelainan jantung. Berikut adalah penjelasan Dr. Bambang Dwipoyono Sp.OG., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, yang mengungkapkan beberapa aktivitas yang perlu dicermati selama kehamilan.

1. NAIK PESAWAT TERBANG
Kalangan penerbangan internasional biasanya menerapkan aturan untuk tidak membolehkan wanita dengan kehamilan di atas 32 minggu ikut penerbangan jarak jauh. Contohnya, Jakarta-New York yang perjalanannya memakan waktu hingga 22 jam.
"Dalam penerbangan seperti ini, posisi penumpang, kan, hanya duduk dan ini yang akan memperbesar risiko terjadinya perdarahan, ketuban pecah, kontraksi, dan sebagainya," papar Dwipoyono. "Apalagi perubahan tekanan dalam pesawat juga bisa ikut merangsang kontraksi, hingga berkemungkinan mempercepat persalinan."
Penerbangan jarak jauh juga tidak dianjurkan bila ibu yang sedang hamil muda mengalami gangguan morning sickness. Terlalu lama berada dalam pesawat terbang akan memperberat kondisinya. Kecuali kalau penerbangannya hanya makan waktu 1-2 jam, dari Jakarta ke Surabaya atau dari Jakarta ke Bali, misalnya.
Bila usia kandungan masih di bawah 32 minggu dan kehamilannya normal, boleh-boleh saja, ibu bepergian dengan pesawat terbang. Itulah mengapa umumnya perusahaan penerbangan meminta surat keterangan mengenai kondisi dan usia kehamilan yang bersangkutan dari dokter kandungan. Malahan, beberapa perusahaan penerbangan tetap melakukan pemeriksaan medis terhadap ibu yang sudah membawa surat keterangan dokter.

2. NAIK ANGKUTAN UMUM
Selama hamil, boleh saja ibu menumpang angkutan umum. Toh, guncangan-guncangan kecil tak perlu kelewat dikhawatirkan karena rahim memiliki air ketuban yang berfungsi menetralisir guncangan biasa. Yang justru perlu dihindari adalah posisi berdiri terlalu lama, apalagi dalam kondisi harus berdesak-desakan.
Masalahnya, kondisi jantung ibu hamil umumnya tidak terlalu bagus. Terlalu lama berdiri akan menyebabkan oksigen tak sampai ke jaringan otak yang pada akhirnya dapat membuat ibu pingsan. Di sinilah pentingnya pengertian dan kesediaan penumpang lain memberikan tempat duduknya pada ibu hamil yang kebetulan berdiri.

3. TAMBAL GIGI
Tindakan medis terhadap ibu hamil harus dilakukan hati-hati, termasuk pencabutan gigi. Salah satu sebabnya karena kondisi geligi ibu hamil umumnya mudah berdarah lantaran adanya pelebaran pembuluh-pembuluh darah, disamping perubahan hormonal. Lain hal jika pencabutan gigi terpaksa dilakukan, karena kalau dibiarkan malah akan menyebabkan infeksi yang akan memicu kontraksi dan memperbesar kemungkinan terjadinya kelahiran prematur.
Tak cuma pencabutan gigi, pemberian obat-obatan pun harus dengan pertimbangan matang karena dikhawatirkan berdampak buruk pada pertumbuhan janin, terutama pada kehamilan usia muda.

4. MENGEMUDI
Yang satu ini, bukannya tidak boleh, melainkan harus hati-hati dan lihat kondisi. Soalnya, akibat perubahan hormon terutama saat hamil muda, ibu kerap merasa akan pingsan. Padahal mengemudi haruslah dalam kondisi siaga/konsentrasi penuh. Nah, kalau tiba-tiba dunia terasa gelap, sangat mungkin terjadi kecelakaan, kan?
Di luar itu, para ahli kandungan sepakat, ibu hamil boleh mengemudi hingga usia kehamilan sekitar 7 bulanan atau saat perut masih relatif kecil dan posisi janin masih bebas bergerak dalam air ketuban.
Meski usia kehamilan belum mencapai 7 bulan, mengemudi sama sekali tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang sering mengalami perdarahan atau pernah melakukan aborsi. "Kecuali sangat terpaksa, mengendarai mobil boleh saja sepanjang ibu dengan kondisi itu tidak merasakan sakit, nyeri, mual, atau kontraksi berlebihan pada otot perut dan panggul."
Jenis mobil yang dikendarai pun sebaiknya bersuspensi lembut, hingga getaran yang ditimbulkannya tidak terlampau hebat. Hindari mobil-mobil "kelas berat" dari kategori jip. Jauhi jalan yang berlubang-lubang atau bergelombang dan pilihlah yang relatif mulus. Kalaupun mengalami kontraksi ringan, sebaiknya istirahat dengan merebahkan posisi jok sampai kondisi normal kembali. Namun bila kontraksi berulang dan terasa cukup berat, segera konsultasikan ke dokter.

5. OLAHRAGA
Meskipun hamil, olahraga tetap diperlukan. Pilih mana yang cocok. Dengan begitu, selain tetap segar, ibu pun bisa mempersiapkan staminanya untuk persalinan. Yang pasti, jangan lakukan gerakan cepat, menghentak, maupun sambil mengangkat beban. Inilah olahraga lain yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil:
* Seluncur (sepatu roda, ski, ice skating)
Selama hamil, baik yang sudah atau malah belum mahir berseluncur, sangat tidak dianjurkan melakukan permainan ini. Risiko terjatuh sangat tinggi. Belum lagi bila dilakukan di ruangan dingin yang kurang baik bagi daya tahan tubuh.
* Menyelam
Ada yang membolehkan olahraga ini dilakukan di masa kehamilan jika kedalaman airnya tidak mencapai 10 meter. Yang ditakutkan adalah ibu mengalami kram, tenggelam, kecelakaan atau terluka terbentur karang dan kehabisan tenaga di kedalaman air.
* Tenis Meja
Olahraga ini tidak dianjurkan karena memerlukan gerakan-gerakan menghentak. Namun kalau dilakukan sekadarnya dengan gerakan ringan, boleh saja. Jaga agar jangan sampai perut menabrak meja permainan.
* Tenis
Boleh saja dilakukan asalkan tidak disertai hentakan dan gerakan berlari. Lamanya juga tidak lebih dari 30-40 menit. Untuk ibu yang hamil tua, sebaiknya pilih olahraga lain. Terlebih mereka yang mempunyai riwayat penyakit atau kelainan.
* Lompat Tali
Meski tampak ringan, olahraga ini sebetulnya sangat berat dan menguras tenaga, karenanya sangat tidak dianjurkan. Alasan lain, olahraga ini menimbulkan getaran vertikal ke tubuh yang sangat kuat. Belum lagi bertambahnya berat badan wanita hamil yang amat potensial menimbulkan ketidakseimbangan.
* Hiking
Sangat tidak dianjurkan bila areanya terjal. Tenaga ibu bisa terforsir yang dikhawatirkan merangsang kontraksi. Akan tetapi kalau ringan, tak masalah karena mirip dengan berjalan kaki.
* Boling
Bagi yang tidak terbiasa, sebaiknya tak perlu memainkannya selama hamil. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa, sebaiknya pilih bola yang paling ringan dan hindari gerakan-gerakan yang terlalu agresif. Bila badan terasa tak nyaman, segera hentikan.
* Latihan beban
Bila dilakukan dengan beban yang ringan, tidak masalah. Mengangkat beban yang berat pada prinsipnya akan merangsang penegangan otot perut, hingga berpotensi merangsang kontraksi rahim.

6.MENGANGKAT BEBAN BERAT
Ibu hamil pun harus menghindari mengangkat beban-beban berat, termasuk menggendong anak atau mengangkut ember berisi air. Aktivitas ini bisa memicu kontraksi rahim akibat tekanan dari otot-otot perut. Bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu cukup lama bukan tidak mungkin mengakibatkan keguguran atau kelahiran prematur. Meski begitu, mengangkat barang dalam batas-batas normal tidak masalah. Sayangnya, tidak bisa ditentukan sampai berapa kg batas aman bagi setiap orang. Mau tidak mau ibu harus bisa menilai sendiri, apakah yang diangkatnya akan membebani perutnya atau tidak.

7. BERKEMUNGKINAN JATUH
Untuk segala bentuk aktivitas yang berkemungkinan membuatnya terjatuh, ibu hamil mesti ekstrahati-hati. Semisal naik motor, sepeda, berjalan terburu-buru dan sebagainya. Bila benturannya mengarah ke bagian perut bisa menyebabkan kontraksi rahim yang amat berisiko menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.
Namun kalau benturan tersebut tidak terlalu keras dan tidak disertai gejala pendarahan atau rasa sakit, umumnya tidak perlu terlalu dicemaskan. Meski tentu saja tetap harus diperiksakan ke dokter dampak jatuh tersebut pada kondisi si janin. Terlebih bila sampai menyebabkan perdarahan atau timbul rasa sakit di sekitar bawah perut.
Hindari pula penggunaan sepatu/sandal berhak tinggi yang membuat ibu mudah terpeleset. Berhati-hati pula saat berjalan di tempat licin atau ketika harus naik-turun tangga.
Ada baiknya ubah tata letak barang di rumah dengan menghilangkan bagian-bagian yang berkemungkinan membentur perut agar ibu hamil bisa berlalu lalang dengan leluasa.

8. MEROKOK
Kandungan nikotin dalam rokok bisa memacu gangguan kontraksi. Timbunan nikotin dalam darah bisa menghambat aliran darah dari ibu ke janin melalui tali pusar. Dengan begitu, kemampuan distribusi zat makanan yang diperlukan janin juga akan terganggu. Belum lagi karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin dalam darah. Akibatnya, kerja hemoglobin untuk mengikat oksigen sekaligus menyalurkannya ke seluruh tubuh, akan terhambat.
Dengan begitu, rokok meningkatkan risiko kelahiran bayi dengan berat badan rendah, di bawah 2500 gram. Terutama mereka yang merokok lebih dari 20 batang sehari. Risiko keguguran dan lahir prematur juga meningkat 2-4 kali lipat dibanding wanita bukan perokok. Belum lagi risiko perdarahan yang juga mengalami peningkatan.
Selama hamil, hindari asap rokok, karena bila ibu hamil menjadi perokok pasif ia bisa menyalurkan efek negatif itu kepada janinnya. Tingkat keparahannya hampir sama dengan yang dialami perokok sejati. Jadi, usahakan menjauhi tempat-tempat yang terpolusi.

9. KOPI DAN TEH
Kopi dan teh mengandung kafein yang memiliki efek merangsang syaraf serta memacu kerja jantung dan otot. Bila dikonsumsi berlebihan bisa merangsang aktivitas syaraf yang pada akhirnya akan membebani kerja jantung, pembuluh darah dan ginjal. Meski begitu, konsumsi normal 2-3 cangkir sehari, umumnya tidak sampai berpengaruh ke janin karena prosentasenya sangat kecil. Toh, beberapa jam setelah diminum, umumnya segera dikeluarkan tubuh bersama air seni, hingga tidak tertimbun dalam tubuh.
Namun bila dikonsumsi secara berlebih dengan kadar kekentalan tinggi, janin bisa terkena gangguan epilepsi. Risiko ini tentu saja mesti diperhitungkan. Hasil sebuah penelitian menunjukkan, kafein yang terkandung pada kopi berkaitan dengan proses pelepasan muatan listrik yang berlebihan dan tak teratur dari sel otak bayi mamalia yang kekurangan oksigen. Nah, kejadian serupa bisa dibayangkan bakal terjadi kalau kafein masuk terlalu banyak ke dalam tubuh wanita hamil lalu menembus otak janin.

10. PENGARUH ALKOHOL
Melalui tali pusatnya, alkohol yang dikonsumsi ibu hamil bisa berpengaruh terhadap janin. Bayi yang lahir dari ibu peminum memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan mental maupun otak. Itulah mengapa, sangat dianjurkan untuk menghindari konsumsi minuman beralkohol selama kehamilan. Bahkan yang kecanduan pun, lebih baik menghentikan kebiasaan buruk ini sebelum memutuskan untuk hamil. Alkohol yang diminum sebelum kehamilan tidak berpengaruh sama sekali pada janin lantaran akan dikeluarkan dari tubuh sehari kemudian.

11. SANGGAMA SELAMA KEHAMILAN
Pada prinsipnya, hubungan seks yang dilakukan selama kehamilan berjalan normal tak jadi masalah. Yang patut dipertanyakan, seberapa jauh sanggama aman dilakukan? Sulit sekali menegakkan aturan yang berlaku umum karena setiap pasangan memiliki standar yang berbeda.
Kendati begitu, di awal dan akhir kehamilan (setelah usia kehamilan mencapai 36 minggu atau lebih), intensitas hubungan suami-istri sebaiknya dikurangi. Saat ini, risiko keguguran relatif lebih tinggi dibanding masa pertengahan kehamilan. Selama sanggama dimungkinkan, atur posisi tubuh agar penis tidak masuk terlalu dalam. Usahakan pula agar tubuh suami tidak terlalu menekan bagian perut istri. Selain itu hindari sanggama dalam waktu yang lama dan orgasme berulang-ulang karena saat orgasme adakalanya terjadi peregangan rahim dan kontraksi sesaat. Juga, aliran darah ke janin saat itu akan berkurang.

12. BEPERGIAN SENDIRIAN
Kalaupun ingin bepergian, usahakan jangan sendirian, terutama di usia kehamilan muda dan menjelang persalinan, ataupun wanita yang memiliki riwayat kehamilan bermasalah. Di usia kehamilan muda, biasanya ibu mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan mual, muntah, pusing, bahkan bisa saja tiba-tiba terjadi blackout yang mengarah pada ketidaksadaran. Bila hal itu terjadi saat tak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, tentu riskan jadinya. Demikian pula saat hamil tua, bukan tidak mungkin tahu-tahu muncul perdarahan, kontraksi, atau lemas. Kalau ada yang menemani, keluhan-keluhan seperti itu tentu akan lebih mudah diatasi.